Kenyataan dan Kebohongan Demi Kebaikan.

“Terkadang kenyataan memang pahit, tapi lebih baik dari pada hidup dalam kebohongan.”, Hah memang susah ya dalam melakukannya tapi itu adalah jalan satu-satunya ketika kalian harus memilih dalam kejujuran.

Ketika kita mengetahui kenyataan, saya rasa hidup akan lebih indah. Karena, kita tidak selalu dikejar oleh kenyataan itu. Tidak ada beban pikiran seperti hidup dalam kebohongan.

Namun, apakah berbohong demi kebaikan itu buruk ? sedikit cerita tentang berbohong demi kebaikan

Suatu ketika Nabi Ibrahim pernah bersama istrinya Sarah. Mereka berdua melewati daerah yang dipimpin oleh penguasa yang zhalim. Ketika rakyatnya melihat istri Ibrahim, mereka lapor kepada raja, di sana ada lelaki bersama seorang wanita yang sangat cantik –sementara penguasa ini punya kebiasaan, merampas istri orang dan membunuh suaminya– Penguasa itu mengutus orang untuk menanyakannya.

“Siapa wanita ini?” tanya prajurit.

“Dia saudariku.” Jawab Ibrahim. Setelah menjawab ini, Ibrahim mendatangi istrinya dan mengatakan, “Wahai Sarah, tidak ada di muka bumi ini orang yang beriman selain aku dan dirimu. Orang tadi bertanya kepadaku, aku sampaikan bahwa kamu adalah saudariku. Karena itu, jangan engkau anggap aku berbohong… dst.” (HR Bukhari).

Nabi Ibrahim ‘alahis salam dalam hal ini menggunakan kalimat ambigu. Kata “saudara” bisa bermakna saudara seagama atau saudara kandung. Yang diiginkan Ibrahim adalah saudara seiman/seagama, sementara perkataan beliau ini dipahami oleh prajurit, saudara kandung.

Inilah bohong yang dibolehkan, yakni bohong untuk mewujudkan kemaslahatan atau menghindari bahaya yang lebih besar. Diriwayatkan dari Ummu Kultsum binti Uqbah, beliau mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bukan seorang pendusta, orang yang berbohong untuk mendamaikan antar-sesama manusia. Dia menunbuhkan kebaikan atau mengatakan kebaikan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Source : https://www.islampos.com/jika-berbohong-demi-kebaikan-101962/

Itu cerita sekilas tentang Kejujuran dan berbohong demi kebaikan. Saya sendiri menyimpulkan bahwa semua itu harus kita lakukan dari hati nurani kita, agar tidak terjadi penyeselan di kemudian hari. Kita harus siap menerima hasil dari apa yang kita lakukan. Insyaallah semua akan baik jika niat dan apa yang kita lakukan adalah hal yang baik. Allah menyayangi umatnya yang beriman dan berniat baik sesama saudara beragama. Amin Alhamdulillah ya Rabb.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s